imammazhabtokoh islam

Biografi Imam Malik

biografi imam malikImam Malik adalah imam negeri Hijriah, guru besar kota Madinah, cendikiawan penduduk Hijaz, bernama Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir Al-Ashbahi, seorang yang tumbuh dan berkembang di lapangan ilmu.

Dia meninggalkan perkara perkara lain dan memfokuskan dirinya untuk menimbah ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Imam besar lainnya.

Di awal hidupnya, dia telah menjadikan dirinya seakan seorang pendeta di mihrab ilmu. Oleh karena itu, keutamaan-keutamaan ilmu dan keberkahan-keberkahan senantiasa meliputinya. Ilmu itu menjadi penunjuk jalan dan  cahaya penuntunnya, yang selalu menjaganya dari ketergelinciran, lalu menarikanya pada kebaikan.

Hal yang menarik dari riwayat Malik bahwa di masa awal hidupnya, sebelum menjadi seorang imam besar Islam, ia sempat memikirkan sebuah rencana hidup. Jika rencana itu dilaksanakannya, ilmu dan pengetahuan agama tidak akan sampai kepadanya, baik dari seorang guru maupun seorang imam.

Biografi Imam Malik

Pada masa kecil, hatinya sempat tertarik bekerja di bidang tarik suara karena dia merasa memiliki suara yang bagus dan enak didengar. Beruntung ia memiliki seorang Ibu, yang cepat mengkritik pemikirannya itu. Ibunya mengatakan kepadanya bahwa tampangnya jelek dan orang-orang tidak akan mau mendengarkan nyanyian dari orang yang tidak  bagus dan tidak tampan mukanya.

Ibunya kemudian menasihatinya agar mendalami ilmu fiqih saja. Imam Malik menerima saran dari ibunya itu. Imam Malik kemudian mulai mempelajari ilmu fiqih dan hadis. Upayanya inilah yang kemudian menjadikannya Imam besar di antara Imam Imam besar lainnya.

Mungkin sekarang kita bertanya Tanya tentang keputusan yang diambil oleh Imam Malik, yaitu bagaimana jika saat itu ia memandang sebuah cermin, dan mendapatkan bahwa ibunya tidak benar ketika mengatakan bahwa dirinya jelek.

Sesunggunya Imam Malik adalah seorang yang  bagus dan rupawan, sangat sempurna postur tubuhnya, dan putih pirang warna kulitnya, semua karakteristik itu ada padanya, lalu di masa besarnya semua itu bergabung dengan kewibawaan dan ketenangannya.

Jarang sekali semua itu dapat berkumpul pada satu orang, kecuali hanya pada sedikit orang dari orang orang besar dalam sejarah.

Said bin Hindun al-Andalusi ketika masuk ke tempat Imam Malik yang kemudian terpikat oleh wibawa dan kemuliaannya mengatakan,

“Aku tidak pernah menaruh rasa hormat seperti aku menaruhkan rasa hormatku kepada Abdurrahman bin Mu’awiyah sampai aku masuk ke tempat Malik. Sungguh, wibawanya sangat besar sehingga menjadikan aku sangat menghormatinya dan mengalahkan penghormatanku kepada Ibnu Mu’awiyah. Bahkan, pemerintah Madinah pun menghormati dan memuliakannya”

Imam Syafi’I pun sampai berkata, “Aku tidak pernah menghormati seorang pun seperti penghormatanku kepada Malik bin Anas”

Yang harus diperhatikan di sini adalah wibawa yang ada pada diri Imam Malik adalah wibawa karena ilmu dan ketenangannya, bahkan karena ketampanannya.

Betapa banyak wajah yang tampan dan menawan, tetapi tidak memancarkan kewibawaan walaupun sebesar saya nyamuk, baik di sisi Allah maupun di hadapan manusia.

Yang menjadikan wibawa Imam Malik masuk ke dalam hati manusia melebihi para penguasa adalah ilmu dan ketakwaannya, yaitu dua hal yang telah menganugerahkan keindahan kepada dirinya.

Imam Syafi’I menceritakan kisah kedatangannya ke Madinah saat masih kecil mambawa surat wasiat Gubernur Mekah kepada Gubernur kota itu supaya menyampaikan kepada Imam Malik. Ia berkata,

“Aku masuk ke tempat Gubernur Mekah, mengambil suratnya yang ditujukan kepada Gubernur Madinah dan kepada Malik bin Anas. Ketika sampai ke Madinah, aku menyampaikan surat itu kepada Gubernur Madinah.”

Setelah membacanya, Gubernur itu berkata, “Wahai anak muda, sungguh berjalan di tengah kota Madianah ini menuju tengah Kota Mekah tanpa alas kaki lebih ringan bagiku daripada berjalan menuju pintu rumah Malik bin Anas. Aku tidak pernah merasa lebih rendah sampai aku berdiri di depan pintunya”. Aku berkata,

“Semoga Allah menjadikan pemimpin ini orang yang saleh.” Ia berkata, “Bagaimana mungkin?” Alangkah senangnya jika aku bisa pergi ke sana bersama orang orang yang bersamaku, lalu kami terkena debu dan dapat melaksanakan keperluan kami. Aku pun memberinya janji bertemu di waktu Asar.

Kami pergi bersama. Demi Allah, sungguh yang terjadi seperti yang ia katakana. Kami terkena debu. Lalu seorang dari kami mengetuk pintu rumahnya.

Seorang budak perempuan berkulit hitam keluar. Ia berkata,

“Tuanku mengucapkan salam untukmu dan mengatakan jika kamu memiliki masalah, ajukan di sebuah tulisan. Jawabannya akan keluar untukmu. Jika yang ingin kamu tanyakan adalah hadis, bukankah kamu telah tahu hari majelisnya. Jadi, pulanglah.” Maka Gubernur itu berkata kepadanya,

“Tolong sampaikan kepadanya bahwa aku membawa surat Gubernur Mekah berisi keperluannya yang sangat penting” Budak itu pun masuk. Tidak lama kemudian, ia keluar lagi membawa sebuah kursi, lalu meletakkannya.

Selanjutnya aku melihat Imam Malik keluar dengan wibawa dan tenang. Dia adalah sosok yang tinggi. Dia duduk mengenakan jubah hijau. Gubernur kemudian menyerahkan surat itu kepadanya. Dia membacanya, dan sampailah pada bacaan surat itu pada kalimat kalimat wasiat yang ada padanya,

“Sesungguhnya perkara dan keadaan orang ini seperti itu. Bacakanlah hadis kepadanya…”

Kemudian surat itu dilemparkan dari tangannya seraya berkata, “Mahasuci Allah. Benarkah ilmu Rasulullah itu diambil melalui perantara perantara? Sunggu saat itu aku melihat Gubernur itu sudah tidak berani untuk berkata-kata lagi kepadanya, kemudian aku maju mendekatinya, kemudian berkata,”

“Semoga Allah menjadikan Anda orang yang saleh. Aku adalah orang yang datang untuk mencari ilmu. Keadaan dan cerita tentang diriku begini…” setelah mendengar perkataanku, dia memandang ke arahku beberapa saat. Dia adalah orang yang memiliki firasat. Lalu dia berkata, “Siapa namamu?” aku menjawabnya, “Muhammad.” Dia berkata kepadaku. “Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan perbuatan maksiat. Sungguh akan terjadi perkara yang hebat pada dirimu.”

Itulah Imam Malik bin Anas, seorang yang memiliki wibawa hingga menjadikan pemerintah berhenti di depan pintu rumahnya. Mereka tidak diberi izin untuk masuk ke rumahnya, kecuali dengan bersusah payah terlebih dahulu, bahkan mungkin dengan sidikt penghinaan.

Semua itu karena, ia adalah penguasa ilmu. Ilmu memiliki wibawa. Orang-orang ahli imu pasti akan memiliki kemuliaan dan keagungan dalam hati orang orang besar dan kecil selama mereka menjaga kedudukan ilmu dan diri mereka, dan Imam Malik telah melaksanakannya.

Dia menjaga ilmu, aka ilmu itu pun menjaga dirinya. Bahkan ilmu itu telah menganugerahkannya kekebalan hukum yang tidak mungkin sampai tersentuh oleh seorang pun dari pembesar Bani Abbas.

Bahkan, hampir saja kerajaan Bani Abbas itu terguncang di bawah kaki-kaki mereka jika Raja mereka, Abu Ja’far Al-Manshur, tidak mengemukakan alasan dirinya.

Kegiatan Belajar Mengajar Imam Malik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button