istri rasulullah

Khadijah Istri Rasulullah saw

Bagaimanakah latarbelakang dari istri Rasulullah saw?
Bagaimana suku Quraisy memandang Sitti Khadijah?
Bagaimana Allah mempertemukan Khadijah dengan Muhammad saw?
Bagaimana proses peminangan pernikahan Rasulullah dan Khadijah?
Siapa saja anak anak Rasulullah saw dari rahim Khadijah?
Kapankah Sitti Khadijah Ummul Mukminin wafat dan di mana ia dimakamkan?

Pertanyaan di atas insyaallah akan terjawa pada postingan kali ini, semoga bermanfaat bagi seluruh umat. Selamat membaca….

Khadijah merupakan istri pertama dari Rasulullah saw. Sitti Khadijah binti Khuwalid (sekitar 555/565/570-619/623) memiliki nama lengkap Sitti Khadijah binti Khuwalid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Khadijah lahir dan besar di lingkungan Quraisy dan lahir pada keluarga terhormat pada lima belas tahun sebelum tahun Gajah, Khadijah anak perempuan dari bin Asad dari suku Quraisy.

Khadijah lahir di Mekkah tahun 68 sebelum Hijrah, 15 tahun sebelum tahun gajah atau lima belas tahun sebelum kelahiran Rasulullah saw. Ia memiliki nasab yang suci, luhur dan mulia laksana untaian mutiara yang berkilauan. Beliau dididik oleh orang tuanya sendiri sebagai sosok yang santun dan tidak sombong akan kebangsawanannya, selalu menjaga martabat dan kesucian dirinya sehingga beliau mendapatkan gelar Ath Thahirah (perempuan suci).

Ayahnya, Khuwalid bin Asad, adalah tokoh pembesar Quraisy yang terkenal hartawan dan dermawan. Khuwalid sangat mencintai keluarga dan kaumnya, menghormati tamu dan memberdayakan orang miskin. Ia termasuk sahabat Abdul Muthalib, kakek Muhammad saw. Ayah Khadijah juga merupakan delegasi Quraisy yang pernah di utus ke Yaman untuk memberi ucapan selamat kepada Rajanya yang berbangsa Arab yaitu Saif bin Dziyazin, atas keberhasilannya mengusir bangsa Abbessinia dari negerinya. Peristiwa ini terjadi dua tahun sesudah peyerangan Mekkah pada tahun gajah.

Sejarah tidak melupakan peran Khuwalid, ayah Sayyidah Khadijah ketika ia berdiri di hadapan Tuba, Raja Yaman yang datang ke Mekkah untuk berhaji. Raja itu ingin mengambil hajar aswad dan membawanya ke Yaman. Khuwalid menghadang pasukan Yaman dan menjelaskan kepada mereka bahwa tindakan itu akan mendatangkan murkah Allah dan penguasa tempat itu tidak akan membiarkannya.

Khuwalid dan para pengikutnya menghadang pasukan Raja Yaman sehingga ia diliputi rasa takut akan laknat yang mungkin menimpahnya. Kata kata Khuwalid terus terngiang ngiang di pikiran Raja, Ketika Raja itu memasuki Ka’bah dan tidur di sana, ia mengalami mimpi buruk seakan akan nestapa dan laknat dasyat membinasakan dan menghancurkannya. Akhirnya dia membatalkan niatnya dan kembali ke Yaman dengan tagan hampa.

Ibunda Sayyidah Khadijah Fatimah binti Za’idah bin Al Ashamm bin Ruwahah bin Hajar bin Abdullah bin Ma’ish, bin Amir bin Luay. Ibunda Fatimah adalah Halah binti Abdul Manaf bin Al Harits yang tersambung pada Luay bin Ghalib. Masing masing silsilah ayahanda dan ibundanya berasal dari keturunan Quraisy yang terhormat dan mulia.

Kedua orang tua Khadijah adalah keluarga terbaik di tengah kaumnya dan keluarga paling kaya. Khadijah dibesarkan di rumah megah yang sarat materi. Kendati demikian ia didisiplinkan oleh perilaku yang mulia, dan keluarganya dikenal taat beragama. Kelurga itu diselamatkan dari banjir besar yang menerjang Mekkah dan menenggelamkan sebagian besar rumah keluarga Quraisy. Allah menjaga Khadijah mulai masa kanak kanak hingga berangjak dewasa. Ia mendapat perlindungan khusus dari Allah karena kelak ia akan menjadi ibu bagi orang orang beriman.

Telah menjadi kebiasaan keluarga Quraisy untuk menikahkan puterinya diusia belia. Jika seorang anak telah melewati usia 10 tahun, maka ia akan dinikahkan. Dan tidak ada yang berani melamar Khadijah dalam suku Quraisy terkecuali mereka yang telah dikenal memiliki keutamaan dan kemualian keturunannya.

Sebelum menikah dengan Rasulullah Sitti Khadijah pernah dua kali menikah. Suami pertama Khadijah adalah Abu Halah an Nabbasy Ibnu Zurarah At Taymi, yang wafat dan meninggalkan kekayaan yang banyak, juga jaringan perniagaan yang luas dan berkembang. Abu Halah wafat meningalkan dua anak laki laki yaitu Hindun dan Halah.

Pernikahan kedua Khadijah adalah dengan Atiq Ibnu Aid Al Makhzumi, yang juga wafat dengan meninggalkan kekayaan dan perniagaan. Dengan demikian, Khadihaj menjadi orang terkaya yang ada di Suku Quraisy. Dari suaminya yang kedua ini Khadijah memiliki seorang anak yang lagi lagi diberinama Hindun.

Hindun menikah dengan sepupunya sendiri yang bernama Shafiy Ibnu Umayyah Ibnu Aidz Al Makhzumi. Keturunan Khadijah ini sempat tinggal di Madinah dan sering disebut dengan Bani Thihira yang berarti keturunan wanita suci.

Jika kita telusuri kerabat kerabat Khadijah semuanya berlatar belakang keluarga terpandang dan kaya raya. Misalnya Hakim bin Hizam yang merupakan keponakan Sitti Khadijah, begitu pula dengan saudara sepupunya Waraqah bin Naufal, kedua orang ini meiliki peran penting dalak mehidupan Sitti Khadijah.

Hakim dikenal sebagai orang yang cerdas, memiliki kemampuan nalar dan pandangan yang luas, bijaksana, dan darmawan sehingga dikisahkan ia menjadi seorang anggota Dar An Nadwah ketika usianya baru menginjak lima belas tahun, padahal dewan itu menerima anggota yang minimal berumur 40 tahun.

Ia diterima meski usianya masih belia membuktikan kecerdasan pikirannya, ketajaman pikirannya, dan keluasan wawasannya. Bahkan, Abu Sufyan begitu berhasrat meraih kedudukan seperti Hakim bin Hazim.

Sedangkan Waraqah bin Naufal, anak salah seorang paman Khadijah. Beliau adalah Syekh besar yang berperan penting dalam pendidikan rohani Khadijah di masa Jahiliah sebelum ia menikah dengan Rasulullah saw.

Waraqah dikenal sebagai seorang yang zahid terhadap dunia. Seluruh hidupnya digunakan untuk menelaah dan mengkaji kitab Taurat dan Injil. Ia memahami tanda tanda kenabian yang terdapat pada diri Nabi Muhammad saw, sebagaimana dikabarkan dalam kitab Taurat, Injil, dan kitab kitab lainnya.

Ajaran Waraqah sangat memengaruhi Sitti Khadijah sehingga ia tumbuh menjadi wanita yang matang, bijak, dan cerdik. Ia dikenal memiliki pikiran yang visioner. Ia banyak belajar kepada Waraqah mengenai keyakinannya kepada Allah, tanda tanda kekuasaan-Nya, pahala dan siksa-Nya, surga dan neraka-Nya, serta nilai keutamaan kerja dan infak kepada kaum fakir dan menolong orang yang membutuhkan.

Berkat ajaran dari Waraqah, Sitti Khadijah selama hidupnya tidak pernah menyembah berhala, tak pernah menyajikan kurban untuk berhala, dan tidak pernah bernazar untuknya. Bahwa bisa dikatakan kehidupan Khadijah di masa Jahiiah sepenuhnya terbebaskan dari berhalan dan penyembahan terhadapnya.

Khadijah digelari Ath Thahirah karena ia terjaga dari penyebahan kapada patung dan berhala. Ia tidak pernah bergabung pada wanita yang suka berpesta pora. Pada masa Jahiliah pesta pora sering dilakukan di rumah rumah dengan pesta arak, nyanyi nyanyian dansa, dan kesenangan lainnya.

Sitti Khadijah Tak pernak sekalipun rumah atau tempat perkumpulan yang menggelar acara semacam itu. Kaum wanita Quraisy menghormatinya dan sejarah pun mencatatnya dengan tinta emas, karena ia memiliki jiwa yang agung. Mereka sering mengunjungi rumah Khadijah untuk mendapatkan keutamaan dan kehormatannya.

Ketika Sitti Khadijah keluar rumah menuju Ka’bah untuk melakukan tawaf, mereka akan mengikutinya. Mereka tunduk dan patuh kepadanya. Tak seorang pun menentang ucapannya. Ia hanya mengucapkan yang baik dan selalu menjaga telinganya dari mendengar perkataan buruk dan keji.

Kesuksesan Khadijah dalam bidang bisnis tidak hanya dikarenakan harta warisan dari kedua orang tua dan mantan suaminya yang berasal dari keluarga kaya raya, tetapi hal itu tidak lepas dari sikap baik terhadap ralasi bisnis dan kepuduliannya terhadap para pekerjanya serta sikapnya yang selalu berhati hati dalam berbisnis. Sikapnya itulah yang membuat bisnis Khadijah sangat maju sampai keluar kota Mekkah.

Khadijah memiliki seorang pegawai yang dapat dipercaya yaitu Maysarah. Dia dikenal sebagai orang ikhlas dan berani, sehingga Khadijah pun berani untuk melimpahkan tanggung jawab untuk pengangkatan pegawai baru yang akan mengiringi dan menyiapkan kafilah, menentukan harga, dan memilih barang dagangan.

Suatu hari, Khadijah hendak mengirim kafilah dagang ke negeri Syam. Ia mencari seseorang yang dapat diutusnya ke Syam untuk mengawasi dan memimpin rombongan dagang tersebut. Saat itu, masyarakat Mekkah sedang ramai membicarakan Muhammad bin Abdullah, seorang pemuda yang bisa menjaga kejujuran dan keluhuran budi di tengah rekan rekan sebayanya yang sibuk berfoya foya. Khadijah berfikir kenapa tidak Muhammad saja yang diutusnya untuk ke Syam?

Muhammad adalah sosok yang jujur, dan kejujuran sangat penting dalam perdagangan. Tetapi, Khadijah tidak pernah mendengar Rasulullah memiliki pengalaman dalam berdagang. Pilihan itu sebenarnya beresiko, namun Khadijah hanya mengandalkan firasat dan nalurinya yang jarang salah. Akhirnya Khadijah pun memanggil Muhammad dan mengajaknya berbincang bincang mengenai perdagangan.

Dalam perbincangan itu, Khadijah menangkap kesan bahwa Nabi Muhammad merupakan pemuda yang cerdas, santun, pandai menjada diri, dan berpenampilan sempurna. Nabi Muhammad terlihat begitu tenang ketika diam dan terlihat begitu berpengaruh ketika berbicara. Ia selalu memperhatikan lawan bicaranya, mendengarkan dengan teliti, dan tidak pernah memperlihatkan sikap setengah setengah.

Sebagai seorang pedagang yang berpengalaman, Khadijah tahu bahwa Muhammad adalah orang yang ia cari. Khadijah berkata:

“Aku memanggilmu berdasarkan apa yang kudengar dari orang orang tentang perkataanmu yang jujur, itegritasmu yang terpercaya, dan akhlakmu yang mulia. Aku memilihmu dan aku membayarmu dua kali lipat dari apa yang bisa kau terima dari orang lain di kaummu”

Nabi Muhammad pun menerima tugas itu dengan senang hati. Setelah menerima tugas dari Khadijah Rasulullah segera bergegas menuju pamannya, Abu Thalib, untuk menceritakan tawaran kerja yang baru saja diterimanya. Abu Thalib pun bergembira dan berkata”

“Ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadamu”

Hari keberangkatan pun tiba, penduduk Mekah, termasuk para paman Nabi Muhammad, beramai ramai mengantar kafilah ke perbatasan kota. Kafilahpun bertolak menuju Syam.

Dalam ekspedisi dagang ke Syam ini, Nabi Muhammad dibantu oleh Maysarah. Khadijah berpesan agar Maysarah tidak membantah perintah Nabi Muhammad atau pun menentang pendapatnya. Urusan perdagangan di Syam ternyata berjalan lancar. Barang barang habis terjual. Laba yang luar bisa besar pun didapat.

Sebelum pulang, kafilah ini membeli barang barang lain untuk dijual kembali ke Mekkah. Setelah semua urusan selesai, kafilah ini pun beranjak pulang. Sesampainya di sebuah lembah (sekarang dikenal dengan nama Wadi Fatimah) di luar Mekkah, Maysarah berkata kepada Muhammad:

“Pergilah kepada Khadijah! Laporkan semua yang engkau alami dan keuntungan yang engaku peroleh dalam ekspedisi ini”

Nabi Muhammad lalu maju bersama para pemuda lain yang baru saja datang dari perjalanan jauh. Mereka memasuki kota yang diikuti kafilah yang berjalan perlahan di belakang mereka. Para lelaki menyambut kedatangan mereka di jalan jalan. Para wanita memandangi mereka dari atap rumah. Waktu siang hari, Khadijah sedang berada dengan wanita lainnya di bagian atas rumahnya. Ia dapat melihat Nabi Muhammad menunggangi unta kecil berwarnah merah memasuki kota. Ada 2 malaikat menaunginya. Para wanita itu terkejut. Betapa gagah Nabi Muhammad, betapa agung wibawa yang dipancarkannya. Betapa dari jauh ia telihat begitu indah dan mengesankan.

Sebagaimana tradisi Quraisy setelah pulang dari perjalanan jauh, Nabi Muhammad pun langsung menujuh Ka’bah untuk melakukan tawaf. Setelah itu barulah ia menghadap Khadijah.

Kepada Khadijah, Muhammad menyampaikan yang ia alami selama perjalanan, termasuk keuntungan besar yang diperolehnya dan barang barang yang dibelinya di Syam. Khadijah menerima laporan itu dengan gembira. Apalagi setelah diketahui bahawa barang brang yang dibeli di Syam laku terjual di Mekkah dengan keuntungan berlipat ganda.

Pada kesempatan lain Maysarah juga menghadap ke Khadijah sambil menceritakan kejadian kejadian aneh yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Suatu hari dalam perdagangan menuju Syam, Maysarah melihat kejadian aneh di tengah matarahi yang cukup terik, gulungan awan selalu mengikuti perjalanan Nabi Muhammad seolah melindungi Muhammad dari sengatan matahari. Kejadian ini membawa kesan mendalam dalam hati Maysarah. Lebih lebih setelah dia mendengar perkataan dari seorang Rahib bahwa Nabi Muhammad adalah laki laki yang ditunggu tunggu oleh bangsa Arab yang kedatangannya telah ditulis di dalam kita taurat dan injil.

Maysarah juga bercerita kepada Khadijah tentang tingkah laku Muhammad di sepanjang perjalanan. Semua itu menunjukan kejujuran, keluhuran budi, dan kelembutan hatinya. Cerita cerita Nabi Muhammad itu meresab ke dalam jiwa Khadijah dan pada dasarnya Khadijah pun telah merasakan adanya kejujuran, amanah, dan cahaya yang senantiasa menerangi wajah Nabi Muhammad.

Khadijah mulai berpikir untuk menimbang nimbang semua cerita yang didengarnya itu. Ia tahu bahwa semua penduduk Mekkah merasa kagum kepada Nabi Muhammad. Mereka percaya dengan kejujuran, integritas, dan kebersihan moralnya. Julukan yang beredar untuknya adalah Al Amin yang berarti “Orang yang dapat dipercaya”. Khadijah sendiri mengakui bahwa Muhammad adalah pemuda yang nyaris sempurna.

Khadijah mulai bertanya tanya perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Mengapa ia merasa kagum ketika melihat Nabi Muhammad memasuki kota Mekkah dengan untanya? Tidak salahkan penglihatannya ketika dua malaikat menaungi Nabi Muhammad? Rasa gembira ketika mendengar Nabi Muhammad memperoleh keuntungan besar di Syam, benarkah rasa itu timbul hanya karena kabar keuntungan besar yang didapatnya? Bagaimana ia menyikapi cerita cerita aneh yang dikabarkan oleh Maysarah?

Semua orang pada masa itu, termasuk Khadijah tentu pernah mendengar ramalan para rahib mengenai seorang Nabi yang akan muncul di Jazirah Arab. Apakah Nabi Muhammad, nabi yang ditunggu tunggu itu? Dalam perdagangan di Syam, Nabi Muhammad memperoleh keuntungan yang sangat besar yang tidak pernah diperoleh oleh orang lain. Apakah hal itu berhubungan dengan statusnya sebagai Nabi?

Khadijah Istri Rasulullah saw

Khadijah Istri Rasulullah saw

Sebenarnya Khadijah telah mencoba untuk tidak memikirkan pertanyaan pertanyaan itu. Tetapi semakin keras dia berusaha untuk melupakannya, semakin sering pikiran pikiran itu muncul di kepalanya. Dan anehnya, Khadijah merasa bahagia dengan semua itu. Ia bertanya bertanya, apakah rasa kagum itu seperti apa yang dirasakan oleh orang orang quraisy?

Khadijah tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu. Ia seorang wanita yang dikenal dengan kecerdikan dan ketajaman pikiran, ternyata tidak dapat menangani persoalan yang terkesan sederhana ini. Di ujung rasa bimbangnya, Khadijah pergi menemui sepupunya, Waraqah Ibnu Naufal yang dikenal akan pengtahuannya tentang orang orang terdahulu. Waraqah mengatakan bahwa akan muncul Nabi yang akan membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya Allah.

Waraqah berharap dirinya dikaruniai umur panjang sehingga ia bisa beriman, mengikuti ajaran ajaran Nabi itu, dan membelanya menghadapi musuh musuhnya. Perbincangan dengan waraqah meberi kesan mendalam pada Khadijah. Ia kembali memikirkan Nabi Muhammad, pemuda yang mengagumkan itu. Khadijah percaya sepenuhnya akan kebenaran perkataan Waraqah. Ia tahu bahwa perasaan cinta yang timbul di hatinya adalah perasaan yang wajar bagi wanita mulia yang mendambakan seorang pendamping hidup yang dapat dipercaya. Bahkan ia juga meyakini bahwa cinta itu merupakan anugerah Tuhan kepada dirinya, bahwa Tuhan menghendakinya untuk terlibat dalam rancana besar-Nya bagi manusia.

Khadijah kemudian memutuskan untuk menikah dengan Nabi Muhammad dan mengambil inisiatif untuk meminangnya. Tetapi, masih ada satu pertanyaan yang harus ia jawab: siapa yang akan menjamin bahwa Nabi Muhammad akan menerima pinangannya?

Khadijah adalah wanita yang cantik kaya dan berstatus sosial tinggi di kalangannya. Ia masih memiliki banyak pesona di kalangan laki laki. Di sisi lain Nabi Muhammad bukanlah sosok yang rakus dan mudah tergoda oleh hal hal yang bersifat lahiriyah. Tetapi Khadijah tahu bahwa walau bagaimanapun, Nabi Muhammad tetaplah seorang pemuda. Mencintai seorang gadis sebayanya adalah haknya.

Dengan mempertimbangkan hal hal tersebut khadijah memilih untuk mempertimbangkan sebuah siasat. Ia mengutus seorang wanita yang secara diam diam melakukan pendekatan awal kepada Nabi Muhammad. wanita yang dipercaya untuk mengemban tugas ini adalah Nafisah binti Ummayyah yang masih kerabat dekat Nabi Muhammad dan saudara perempuan dari seorang laki laki yang kemudian menjadi salah satu sahabat Nabi yang terkemuka, Ya’ya Ibnu Ummayyah.

Nafisah mendatangi Muhammad dan menasihatinya layaknya seorang ibu menasihati anaknya. Ia mencoba untuk meyakinkan Muhammad akan penting menikah. Muhammad menjawab bahwa dirinya adalah laki laki miskin yang tidak memiliki apa apa untuk diberikan kepada wanita yang akan menjadi istrinya.

Nafisah membanta hal itu, menurutnya kemiskinan bukanlah penghalang untuk menikah. Apalagi Muhammad telah lama dikagumi oleh penduduk Mekkah karena akhlak dan kejujurannya. Karena itu, menurut Nafisah, semua orang tua tentu mengharapkan Nabi Muhammad datang meminang putri mereka.

Setelah Nabi Muhammad telah diyakinkan akan pentingnya Menikah, barulah Nafisah menyatakan bahwa wanita yang patut menjadi istrinya adalah Khadijah. Alasannya sederhana, Khadijah adalah gadis yang cantik, kaya dan bagus nasabnya, pandai menjaga kehormatan dan kuhur akhlaknya. Masyarakat juga menculukinya “wanita yang suci”.

Mengetahui pilihan Nafisah, Muhammad terkejut. Menurutnya Nafisah berlebihan. Darimana Muhammad akan memperoleh harta untuk membayar mahar Khadijah? Nafisah menjawab bahwa kalau Muhammad setuju untuk menikah dengan Khadijah, urusan mahar tidak perlu ia pikirkan.

Setelah Nafisah memberi tahu hasil pendekatannya, Khadijah langsung mengundang Nabi Muhammad ke kediamannya. Di sana dengan berani, Khadijah mengungkapkan secara langsung pinangannya. Hal itu memberikan rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus keberanian menyampaikan perasaannya tanpa perantara.

Perhatikan ucapan Khadijah kepada Muhammad berikut ini:

“Wahai anak pamanku, aku berhasrat menikah denganmu  atas dasar kekerabatan, kedudukanmu yang mulia , akhlakmu yang baik, integritas moralmu, dan kejujuran perkataanmu.”

Ketika itu Khadijah berusia 40 tahun, namun dia dari golongan keluar yang terhormat, kaya raya, sehingga banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya. Nabi Muhammad pun menyetujui Permohonan Khadijah tersebut. Maka dengan salah seorang pamannya, Nabi Muhammad pergi menemui Paman Khadijah yang bernama Amru bin As’ad untuk meminang Khadijah.

Hari pernikahan yang ditunggu tunggu itupun datang. Nabi Muhammad didampingi oleh Bani Hasyim yang dipimpin oleh Abu Thalib dan Hamzah. Hadir juga bani Mudhar, sedangkan Khadijah didampingi oleh bani Asad yang dipimpin oleh Amr ibnu Asad.

Pernikahan itu sendiri dilaksanakan 2 bulan 15 hari setelah Nabi Muhammad datang dari Syam. Mahar yang diberikan kepada Khadijah adalah 20  ekor unta. Usia Nabi Muhammad saat itu adalah 25 tahun. Khadijah adalah istri pertama dan menjadi istri satu satunya sebelum ia meninggal.

Pesta pernikahan pun tiba. Dua ekor unta besar disembeli untuk keperluan pesta. Dagingnya dibagi bagikan kepada keluarga, kawan kawan dan para fakir miskin. Suasana makin meriah dengan bunyi tabuhan dan nyanyian. Semua bergembira.

Hidup baru membentang di hadapan kedua pengantin. Kebahagian memenuhi diri Khadijah. Pernikahan ini lebih indah dari apa yang ia bayangkan. Khadijah sadar bahwa apa yang ia dengar dengan apa yang saksikan sendiri.

Nabi Muhammad selalu menampkan sifat sabar dan tabah. Ia juga jujur. Apa yang ditampakkanya dalam sikap lahiriyah tidak pernah bertentangan dengan apa yang ada dalam hatinya. Ia dermawan, dan tidak pernah menolak orang orang yang membutuhkan bantuannya. Ia bersedekah tanpa takut bahwa hartnya akan habis. Hal ini terbukti dengan hartanya yang selalu bertambah.

Nabi Muhammad juga sangat rendah hati, ia tidak ragu untuk melayani dirinya sendiri. Tidak pernah ia menunggu uluran tangan pembantu untuk urusan rumah tangganya. Jika Nabi Muhammad memiliki Membantu, maka ia yang menolong pembantunya menyelesaikan tugas tugas mereka.

Allah menganugerahkan Nabi Muhmmad, melalui rahim Khadijah beberapa anak. Khadijah melahirkan dua orang anak laki laki, yaitu Qasim dan Abdullah serta empat anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqqayah, Ummu Kultsum dan Fatimah. Seluruh putra dan putrinya lahir sebelum masa kenabian, kecuali Abdullah.

Khadijah mengasuh dan membimbing anak anaknya dengan bijaksana, lembut, dan penuh kasih sayang, sehingga mereka setia dan sangat hormat kepada ibunya. Zainab banyak menyerupai Khadijah. Setelah dewasa Zainab dinikahkan dengan anak bibinya, Abul Ash Ibnur Rabi’. Pernikahan Zainab ini merupakan peristiwa pertama Rasulullah menikahkan putrinya, dan yang terakhir Rasulullah, menikahkan, Ummu Kultsum dan Ruqayyah dengan dua putra Abu Lahab, yaitu Atabah dan Utaibah. Ketika Nabi saw diutus menjadi Rasul, Fatimah Az-Zahra, putri beliau masih kecil.

Ketika Rasulullah saw menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama melalui malaikat Jibril, yang mana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk malaikat Jibril dalam rupa aslinya di Gua Hira, yang merupakan hasil tahanuts atau menyendirinya beliau selama beberapa waktu, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:

“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah swt yang menguasai diri Khadijah, engkau ini benar-benar akan akan menjadi Nabi pesuruh Allah bagi umat kita.”

Khadijah adalah wanita dan orang yang pertama yang mengakui Kenabian Rasulullah saw. Khadijah membela suaminya dengan harta dan dirinya sendiri dalam menegakkan kalimat tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaummnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan bangsawan dan hartawan Quraisy.

Pada awal masa dakwah Islam yang berat, berbagai serangan pun datang dari pihak yang tidak menyukai Rasulullah karena dianggap telah menyebarkan bid’ah di antara mereka. Akhirnya pemuka Quraisy bersikeras memboikot Rasulullah bersama keluarga dan orang orang yang megikuti beliau.

Setelah berakhirnya pemboikotan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin yang berlangsung selama sekitar 3 tahun, Siti Khadijah sakit keras akibat beberapa tahun menderita kelaparan dan kehausan. Semakin hari kondisi kesehatan badannya semakin memburuk. Dalam sakit yang tidak terlalu lama, Khadijah wafat pada usia 65 tahun pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 kenabian, atau tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah tepatnya 619 Masehi. Khadijah dimakamkan di dataran tinggi Mekkah, yang dikenal dengan sebutan Al Hajun. Rasulullah bersabda:

“Sebaik baiknya wanita penghuni surga adalah Maryam binti Imran da Khadijah binti Khuwalid”

Karena itu, peristiwa wafatnya Sitti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah saat itu. Karena dua orang yang dicintainya (Khadijah dan Abu Thalib) telah wafat, maka tahun tersebut disebut sebagai ‘Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah saw. Khadijah meninggal setelah mendapatkan kemuliaan yang tidak pernah didapatkan oleh wanita lainnya, Dia adalah Ummul Mukminin istri Rasullulah saw yang pertama, wanita pertama yang mempercayai risalah Rasulullah saw. Dialah orang pertama yang mendapat kabar gembira bahwa dirinya adalah ahli surga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button