kisahkisah islami

Kisah Harut dan Marut

Kisah Harut dan Marut adalah kisah yang tertulis dalam Al Quran, yang menceritakan tentang kegelisahan malailat ketika melihat manusia di muka bumi selalu melakukan kerusakan dan ingkar kepada Allah swt.

Malaikat kemudian bertanya kepada Allah swt hingga akhirnya Allah mengutus dua malaikat ke bumi untuk menjalani hidup sebagai seorang manusia merekalah Harut dan Marut.

Di kerajaan tertinggi yang ada di langit, para malaikat berkumpul saling berbisik ketika Allah swt berfirman kepada mereka,

Related Articles

“Sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”

Para malaikan bertanya, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?”

Allah berfirman, “Sesungguhya, Aku mengetahui apa yang tidak enkau ketahui”

Allah mengajarkan nama nama benda kepada Adam, menyuruhnya tinggal di surga dan menciptakan Hawa baginya sebagai istri dan teman hidupnya. Hingga akhirnya Adam bermaksiat kepada Rabbnya dan ia pun diturunkan ke bumi.

Semakin lama, jumlah anak cucu Adam kian bertambah banyak setelah mereka beranak pinak. Seiring bertambahnya keturunan mereka, permukaan bumi kian penuh dengan dosa. Khalifah Allah di bumi menyembah berhala yang mereka buat sendiri dari bebatuan.

Mereka sujud pada berhala dan menghabiskan hari hari dalam ke sia-siaan, hingga seorang saudara tega membunuh saudaranya, merampas hartanya dan bertindak aniaya pada sesama.

Semua itu terus mereka lakukan, sementara malaikat terus mencatat perbuatan dosa mereka hingga catatan amal mereka semakin pekat melebihi gelapnya malam, Pada waktu itulah mereka berkata:

“Mereka ini adalah Khalifah Allah di muka bumi, Tapi mereka bermaksiat kepada-Nya. Bagaimana ini? Padahal Dia sendiri yang memilih mereka?”

Allah swt berfirman, “Kalau seandainya Aku ciptakan kalian seperti mereka niscaya kalian melakukan hal yang sama”

Para malaikat berkata, “Maha suci Engkau, Wahai Rabb, Tidak mungkin kami akan bermaksiat kepada-Mu”

Allah berfirman, “Jika begitu baiklah. Pililah dua malaikat di antara kalian”

Maka, para malaikat pun memilih Harut dan Marut, malaikat yang paling baik ibadanya kepada Allah swt.

Kisah Harut dan Marut
kisah harut dan marut

Sementara di negeri Babilonia, kecantikan beriringan dengan berbagai fitnah. Minuman Khamar ada di mana mana, begitu pula dengan suara musik dari bar bar yang penuh dengan kerusakan dan perbuatan keji.

Sekelompok orang berkumpul mengerumuni seorang biduan wanita yang tengah menari dan bernyanyi. Sementara yang lain membuat orang lain lalai lalu mereka mencuri harta orang orang yang sedang asyik menonton pertunjukan maksiat.

Semua kemungkaran ini didengar dan disaksikan sendiri oleh Harut dan Marut. Keduanya turun ke bumi dengan izin Allah setelah mereka menjadi manusia yang memiliki keinginan terhadap makanan, minuman, dan perkawinan layaknya Bani Adam pada umumnya.

Negeri Babilonia merupakan negeri yang paling memungkinkan untuk ditinggali Harut dan Marut yang memang masih menyimpan keelokan seorang Malaikat, yang mampu memikat hati dan mata bagi siapapun yang memandangnya, Andai keduanya diturunkan di tempat lain, niscaya mereka tidak akan pernah ditinggalkan oleh manusia dan menjadi godaan bagi mereka, Sementara Babilonia benar benar kota yang telah penuh dengan kesenangan dunia.

Diuji dengan Kelaparan

Setelah menempuh perjalanan jauh sebagai manusia, Harut dan Marut akhirnya merasa jenuh, “Dada dan kepalaku terasa sakit, Tubuhku terasa berat sekali seperti gunung. Saking beratnya, kedua kakiku tidak kuat lagi untuk membawanya”

Marut berujar, “sepertinya kau merasakan sakit yang sedang kau rasakan, selain itu aku merasakan perutku terasa sakit sekali”

“Itu suara perut lapar, sobat. Kita sekarang sudah menjadi manusia setelah sebelumnya kita menjadi malaikat yang tidak butuh makan dan butuh minum kita hanya bertasbih dan menyucikan Allah sepanjang hari.” Kata Marut.

Harut memandang ke langit seraya berdoa memohon kepada Allah agar berkenan memberinya makanan, dan tiba tiba saja aroma daging panggang tercium dan menusuk hidung. Keduanya pun bergegas bangkit dan mencari sumber makanan tersebut.

Pandangan mereka menjelajah sehingga mereka menumukan sekelompok orang yang sedang makan. Harut dan Marut pun mendekati makanan tersebut hingga berjarak beberapa langkah saja. Rasa lapar makin menjadi, namun kesombongan menahan keduanya untuk mengemis di negeri Babilonia, maupun untuk meminta makanan.

Akan tetapi, bagaiamana mungkin mereka bisa mengatasi lapar bila tidak makan? Keduanya sudah duduk dengan segerombolan orang yang sedang makan, tetapi meraka hanya terdiam memandangi. Segerombolan orang tersebut melihat mereka dan memanggil Harut dan Marut untuk ikut makan, keduanya pun makan sampai kenyang.

Diuji dengan kecantikan

Suara lapar telah berhenti. Harut dan Marut memandangi orang orang yang makan bersamanya. Tiba tiba ada seorang wanita yang menarik perhatiannya. Keindahannya, kecantikannya, rambutnya yang terurai sampai sebahu, dan parasnya yang terlihat laksana bulan di malam purnama.

Dialah Zuhrah, wanita tercantik di Babilonia. Akan tetapi, keduanya pun segera teringat kalau telah berbuat kesalahan, serta harus segera bertobat dan memohon ampun atas dosa ini. Rasa malu hampir membunuh keduanya dan penyesalan pun mengalir di wajah mereka.

Akan tetapi, belum juga penyesalan itu lenyap, hawa nafsu kembali lagi hadir dan membuat mereka menatap Zuhrah lama sekali. Di dalam hati, suara keimanan berteriak keras hingga menyadarkan keduanya. Mereka pun beristigfar, memohon ampun kepada Allah swt. Mereka sadar bahwa hanya ada satu cara agar terhindar dari dosa, yaitu meninggalkan tempat tersebut.

Harut dan Marut bergegas berdiri dan memohon ampuan kepada Allah swt. Setelah lama berjalan meninggalkan tempat tersebut, keduanya kembali merasakan keinginan yang sangat kuat untuk melihat wanita itu. Keduanya pun menoleh, lalu cepat cepat melanjutkan perjalanan kembali.

Harut dan Marut berjalan sambil terdiam tanpa kata, meski begitu jiwanya bergumam lirih

“Dosa apa yang telah ku perbuat ini? kita bermaksiat kepada Allah swt, melihat sesuatu yang telah diharamkannya”

Harut kemudian menoleh ke arah Marut dan berkata, “Nafsu syahwat manusia yang keji telah mendorongku untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah, duhai betapa keji nafsu manusia”

Marut berkata, “Kamu pasti sedang merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.”

“Ya, dan aku takut bila tempat kita kembali nanti adalah neraka, sama seperti mereka yang gemar berbuat maksiat.” Jawab Harut.

“Tidak. Jangan takut. Kita pasti mampu mengalahkan syahwat ini. Kita akan menekannya memohon ampunan kepada Allah dan bertobat kepada-Nya” Timpal Marut.

Mereka pun berjalan sangat jauh hingga sampai ke tempat jauh dari manusia, yang tidak ada kemaksiatan di sana.

Matahari mulai terbenam, bentuknya seperti sebuah lingkaran berwarna merah seumpama emas murni kemudian tenggelam hingga tak lagi terlihat. Setelah itu malam dengan kegelapannya menyergap siang, bintang bintang bersinar di langit, sementara itu Harut dan Marut tengah larut dalam shalat dan bertasbih memuji Allah swt. Keduanya memohon ampun kepada-Nya

Diuji yang lebih berat

Kota babilonia ialah kota yang penuh dengan kemaksitan  siang hari jalanan disibukkan dengan hiruk pikuk tindak lalim dan saling menindas dan berbagai tindak maksiat, sedang malam harinya jalanan dipenuhi oleh pemuda mabok, mereka berjalan tak tahu diri lagi, saking mabuknya, tubuh mereka sendiri pun sulit untuk dikendalikan, beberapa pemuda terlihat terkapar dan tertidur di jalanan, kondisi seperti ini merupakan hal biasa di kota penuh maksiat ini.

Pada malam itu juga Harut dan Marut melihat segerombol orang berpakaian bagus dan mewah berbondong memasuki sebuah tempat megah, Harut dan Marut mengikuti orang orang tersebut hingga sampailah mereka pada meja jamuan yang penuh dengan makanan dan minuman. Seseorang yang nampaknya disegani di tempat itu melihat Harut dan Marut dan mempersilahkan mereka duduk dan ikut menikmati hidangan yang ada. Harut dan Marut pun ikut makan bersama mereka sampai kenyang. Mereka pun ditawari minum khamer, tentu saja Harut dan Marut menolak mereka pun berkata:

“Ini babilonia, orang seperti apa yang tidak meminum khamer” mereka pun tertawa. Namun ¬†keimanan tetap terpatri dalam hati Harut dan Marut.

Dalam keriuhan pesta itu mereka melihat orang yang menyambut mereka tadi berseteru dengan dua orang pemuda terkait kasus kepemilikan tanah ini. Sebagai bangsa yang penuh dengan pemimpin lalim orang itu ingin mengambil tanah pemuda yang satunya, tentu saja orang orang mendukung bangsawan tersebut, sedangkan hakim yang tidak lain adalah Raja Babilonia sendiri itu terus mempermainkan pemuda pemilik tanah itu, ia pun melihat Harut dan Marut dan berkata

“Aku serahkan keputusan kepemilikan tanah ini kepada mereka”

Semua mata tertuju kepada Harut dan Marut, dengan seksama mereka melihat kasus tersebut dan memberikan beberapa pertanyaan, hingga akhirnya mereka pun membuat keputusan, Harut dan Marut mengembalikan kepemilikan tanah tersebut kepada pemilik aslinya, sedangkan bangsawan tadi tidak berhak atas tanah tersebut.

Semua orang terdiam dan menatap Harut dan Marut kemudian menatap Raja cemas, untuk pertama kalinya ada yang menentang keputusan raja. Raja Babilonia terkejut dengan keputusan Harut dan Marut, keputusan tersebut sungguh jauh dari perkiraannya. Ia pun memandangi Harut dan Marut kemudian berkata

“Mulai hari ini kalian aku angkat menjadi hakim di Babilonia”

Harut dan Marut pun menyetujui permintaan tersebut. Orang orang sangat kecewa dengan keputusan dari Sang Raja yang mengangkat seorang hakim dari seorang yang bahkan tidak mereka kenal.

Menjadi hakim di Babilonia membuat babilonia semakin baik dan tindak lalim saling menindas semakin berkurang, Harut dan Marut selalu berusaha keras memecahkan berbagai persoalan dengan adil dan mengembalikan apa yang menjadi milik orang lain. Nama mereka pun dikenal di seantero negeri sebagai hakim yang adil.

Hari hari mereka yang siang dan malamnya digunakan untuk menyembah dan bertasbih kepada Allah, kini digantikan dengan kesibukan menyelesaikan berbagai kasus dengan adil ketika malam tiba mereka kembali menyembah dan bertasbih kepada-Nya.

Harut dan Marut tidak khawatir lagi dengan kelaparan dan dinginnya malam, kehidupan mereka jadi lebih mudah semenjak menjadi hakim.

Kembali diuji dengan wanita cantik

Suatu hari seorang wanita cantik datang kepada Harut dan Marut untuk menyelesaikan kasusnya, ialah Zuhrah wanita yang pernah mereka jumpai sebelumnya.

Zuhrah menceritakan kasusnya pada Harut dan Marut, namun Harut dan Marut sibuk memandangi wajah cantik Zuhrah mereka terpukau akan kecantikannya.

“Begitulah kasusnya bagaimana menurut hakim?”

“Kembalilah besok pagi, kami akan membicarakan kasusmu” kata Harut

“Iya kembalilah besok pagi kasusmu ini cukup rumit” tambah Marut.

Zuhrah memandangi mereka sedikit heran, lalu meninggalkan Harut dan Marut.

Marut berkata mencela Harut, “Mengapa kamu tunda putusannya sampai esok hari?”

“Aku tidak tahu, itu di luar kemampuanku teman”

“Aku takut kita akan masuk neraka gara gara wanita ini. Mari kita bertobat kepada Allah”

Keesokan paginya Zuhrah mendatangi majelis peradilan, sedangkan Harut dan Marut sedikit pun tidak sempat memejamkan mata,  mereka disibukan bertobat kepada Allah dan berjanji tidak akan menatap Zuhrah, keduanya berjanji akan memadamkan hasrat yang bergejolak dalam diri mereka.

Zuhrah masuk ke ruangan dengan memandangi hakim dengan seyuman, Harut sudah lupa dengan janjinya sedangkan Marut mengingat lagi tobatnya.

Mereka berdua berbicara dan memberikan putusan yang tidak adil, putusan ini lebih memihak kepadanya, Zuhrah kemudian bangkit untuk pulang, kemudian Harut dan Marut berkata kepada Zuhrah,

“Mau kemana?”

“Ke kuil untuk menyembah matahari, datanglah bersamaku!”

Mereka betanya “Lalu apa yang kami lakukan?”

“Tentu kamu berdua akan menyembah matahari bersamaku”

“Tidak, kami tidak akan menyembah selain Allah”

Zuhrah kemudian meninggalkan mereka, dan lagi lagi Harut dan Marut mencaci diri mereka sendiri yang lalai dari janjinya dan ingkar pada tobatnya, Harut berkata

“Rahmat Allah sungguh sangat luas. Mari kita bertobat kepada Allah”

Malam itu mereka tidur semalaman tanpa melaksanakan shalat dan memohon ampunan. Setelah matahari terbit dan siang menjelang, mereka berdua berangkat menemui Zuhrah bukannya ke tempat peradilan.

Setelah bertemu Zuhrah perempuan itu menyuguhkan Khamer kepada mereka. Tentu saja Harut dan Marut tidak meminumnya. Zuhrah pun marah hingga mereka pun mau berdamai dengannya. Tapi Zuhrah tidak mau memaafkan mereka kecuali mereka mau meminum Khamer. Akhirnya mereka minum juga dan Khamer menguasai kepala mereka.

Tiba tiba datang seorang laki laki yang ingin menemui Zuhrah. Ia pun melihat Harut dan Marut berada di rumah Zuhrah. Kedatangan orang itu membuat mereka gugup. Mereka takut orang itu akan membeberkan rahasia mereka berdua.

Harut yang saat itu masih berada pada pengaruh Khamer berdiri untuk mencekik pria tadi. Marut tidak mau ketinggalan, ia membantu untuk merenggut nyawa seorang yang tidak tahu apa apa kecuali melihat Harut dan Marut berada di rumah Zuhrah.

Setelah pengaruh Khamer hilang dan mereka tersadar, keduanya merasa sangat sedih dan galau. Mereka ingin terbang ke langit, namun bagaimana mungkin, mereka telah terbebani oleh dosa dosa yang telah mereka lakukan.

Mereka kemudian mendengar suara dari langit “Kalian memilih siksa di dunia, atau di akhirat?”

Mereka lebih memilih siksa di dunia, hingga akhirnya mereka terus di siksa hingga hari kiamat kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button