kisahkisah islamikisah sahabat nabi

Kisah Pedang Allah Walid bin Mughirah

Seorang tokoh Kafir Quraish memuji ayat Al-Quran? Bagaimana bisa! Namun inilah yang tercatat dalam sejarah kenabian. Para tokoh Kafir Quraish yang sebenarnya bukan orang yang bodoh, dan hanya tak ingin mengakui kenabian Nabi Muhammad, ada yang salah satunya suatu kali pernah menunjukkan kekagumannya terhadap ayat Al-Quran, yakni Walid bin Mughirah. Malah, ia bukan sekedar tokoh, melainkan bisa disebut tetua Suku Quraish. Dan ia memperoleh sebutan Raihanat Quraish (bau harum Suku Quraish).

Kejadian ini menunjukkan bahwa sekeras apapun para Kaum Quraish menyembunyikan pengakuan mereka terhadap keindahan Al-Quran, pada akhirnya tetap saja ada yang luput dari mereka. Sehingga, mengungkapkan apa yang ada di lubuk hati terdalam mereka. Bahwa mereka adalah kaum terpelajar tentang gramatikal Arab, dan mereka tahu Al-Quran bukan buatan manusia maupun kaum jin.

Allah menurunkan firman-Nya berkenaan dengan Al-Walid

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Tha’if) ini?’” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Dan firman-Nya:

“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.” (QS. Al-Muddatstsir: 11)

– Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah Ta’ala menurunkan sebanyak 104 ayat berkenaan denagn Al-Walid bin al-Mughirah.”

– Al-Walid termasuk orang-orang yang mengejek Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengganggu Beliau.

– Dia termasuk orang yang divonis masuk Neraka dengan firman Allah

“Aku akan memasukkannya ke dalam (Neraka) Saqar.” (QS. Al-Muddatstsir: 26)

Al-Thabari dalam karyanya Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, meriwayatkan dialog antara kedua tokoh penentang Islam tersebut.

Suatu ketika, Abu Jahl datang kepada al-Walid Ibn al-Mughirah, lalu ia berkata: “Hai al-Walid, Kaummu bermaksud untuk mengumpulkan harta kekayaan untukmu.” Kemudian al-Walid berkata: “Sesungguhnya kaumku, suku Quraisy, telah mengetahui bahwa aku adalah orang terkaya di antara mereka. Jadi, untuk apa mereka mengumpulkannya untukku?”

Iming-imingan yang ditawarkan Abu Jahl dihiraukan oleh al-Walid. Tanpa berbasa-basi lagi, Abu Jahl kemudian meminta kepastian, di mana posisi al-Walid terhadap apa (al-Qur’an) yang disampaikan oleh Nabi Muhammad itu.

“Ucapkanlah sesuatu yang menunjukkan bahwa engkau tidak menyetujui apa (al-Qur’an) yang disampaikan oleh Muhammad!” minta Abu Jahl.

Lalu Al-Walid merespon: “Demi Tuhan, tidak seorang pun di antara kalian yang lebih mengetahui syair-syair, prosa, dan puisi, sebagaimana yang ku ketahui. Demi Tuhan, apa yang disampaikan oleh Muhammad tidak serupa dengan semua itu. Demi Tuhan, terdapat sesuatu yang sedap didengar, manis dirasakan, dari apa yang disampaikannya. Ia memporakporandakan apa yang terdapat di bawahnya. Sesungguhnya yang disampaikan Muhammad itu tinggi dan tidak teratasi.”

Mendengar ucapan al-Walid yang demikian, sontak Abu Jahl terkejut, lantas ia menimpali:

“Sesungguhnya kaummu tidak akan rela terhadapmu sampai engkau mengucapkan sesuatu yang menunjukkan bahwa dirimu tidak mendukung Muhammad.” Al-Walid lalu berkata: “Kalau begitu, biarkanlah aku berpikir dahulu.”

Al-Walid berpikir sampai akhirnya dia memutuskan untuk menyatakan bahwa “Sesungguhnya yang disampaikan Muhammad adalah sihir yang tidak dimiliki oleh orang lain.” Maksudnya adalah bahwa al-Qur’an memiliki keindahan bahasa yang sedemikian memesona sehingga menarik perhatian dan memengaruhi jiwa pendengarnya dan akhirnya merubah sikap mereka yang tadinya mengikuti ajaran nenek moyang beralih mengikuti Nabi Muhammad saw.

Dari sini, terlihatlah bahwa al-Walid merupakan salah seorang yang paling mengetahui bahwa al-Qur’an tidak mungkin merupakan hasil karya makhluk. Namun, atas dorongan dan pesanan Abu Jahl, ia menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan suara hati nuraninya itu sehingga timbullah gejolak di dalam jiwanya yang memaksanya untuk memikirkan ulang mengenai apa yang telah ditetapkannya itu. Gejolak itu timbul karena hasil ketetapannya bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.

Al-Walid merengut dan berubah mukanya ketika ia menyadari kekeliruan pendapat yang telah ditetapkannya. Namun, ia juga sulit untuk menemukan ketetapan lain yang dapat diterima oleh si pemesan (Abu Jahl) dan yang memenuhi ambisi hawa nafsunya. Maka, terjadilah pergolakan yang akhirnya dimenangkan oleh nafsu dan ambisi.

Pada akhirnya, Allah memberikannya sanksi dengan cara mengutuknya karena menolak kebenaran al-Qur’an. Al-Walid dikutuk bukan karena ia berpikir. Akan tetapi, karena cara ia berpikir. Cara berpikirnya adalah menetapkan kesimpulan sesuai dengan pesanan Abu Jahl. Oleh karena itu, ia tidak objektif lagi dan tentu saja hasilnya tidak akan menyentuh kebenaran.

Riwayat lain menyebutkan bahwa pada akhir hayatnya, harta kekayaannya mulai mengikis dan habis, ia dinyatakan wafat dalam keadaan jatuh miskin. Bahkan, di Akhirat nanti, Allah berjanji untuk menyiksanya di neraka Saqar (Q.S. al-Mudatstsir [74]: 26).

Demikianlah kisah al-Walid Ibn al-Mughirah yang dinilai labil dalam menetapkan kebenaran al-Qur’an. Bagaimanapun kisah di atas, seorang sejarawan, Ibn Hisyam dalam karyanya al-Sirah al-Nabawiyyah mengemukakan bahwa dari keturunannya yang banyak dan terpandang yang berjumlah 11 orang itu, hanya 3 orang putranya yang memeluk agama Islam, al-Walid Ibn al-Walid, Hisyam Ibn al-Walid, dan Khalid Ibn al-Walid.

Khalid Ibn al-Walid yang disebutkan terakhir ini merupakan seorang pemuda yang sebelum memeluk Islam telah menjadi pemimpin pasukan berkuda kaum musyrikin dan dalam peperangan Uhud ia berhasil mengubah jalannya pertempuran sehingga berakhir dengan kemenangan kaum musyrikin. Setelah ia masuk Islam, jasanya begitu besar terhadap Islam, sehingga Nabi saw. menggelarinya dengan Saifullah (Pedang Allah). Tidak ada satu peperangan pun yang dipimpinnya, kecuali dimenangkan olehnya.

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button